No Stunting, Indonesia Bebas Stunting, Ayo Cegah Stunting. Gizi Baik, tinggi dan berprestasi

3 Responses to “Diseminasi Landscape Analysis dan Fasilitasi RAD-PG”

  1. ibnu fadlun mengatakan:

    Mohon informasi tentang hal yang saya rasakan baru, apa itu landscape analysis ? atau didalam buku apa saya bisa dapatkan dan pelajari ? thanks before.

  2. onat mengatakan:

    Menggunakan analisis kuadran berdasarkan cut off point suatu indikator adalah ilmu yg baru bagi gizi. Hanya sayangnya KOK angka prevalensi defisit/tingkat konsumsi minimum dari tahun ke tahun dirasakan “meragukan” ya hasilnya alias gede banged (apalagi dibdngkan target 2015) . Banyaknya kelemahan di dalam cara pengambilan datanya, misalnya untuk Susenas menggunakan pendekatan pengeluaran pangan sehingga diketahui berat gramnya (kan relatif banged tuch harga per jenis bahan pangannya, udach gitu katanya konversi gizi nya pake food tabel Asia,bukan DKBM). Sedangkan kalo di Riskesdas pake recall, nah ini mah sebaiknya ahli gizi yang melakukan recall (apalagi kalo menggali pertanyaan makanan jajanan) manalagi software nya nggak ada yg bener lagi. misalnya software PKG, nggak bener Skor PPH karena hasilnya sering mendekati 100 atau melebihi 100 (karena belum ada angka koreksi kalo nilainya ada yang 100 -> lihat petunjuk penyusunan NBM dari IPB), trus FP2 juga banyak kelemahannya. Alhasil banyak provinsi dalam status capaian RAN-MDGs/RAN-PG termasuk PERLU PERHATIAN KHUSUS alias strata 2 kebawah.
    Bisa nggak ya analisis tentang gizi dengan menggunakan tingkat kesenjangan, seperti Gini Ratio pada tingkat persentil pendapatan (diganti dengan data numerik tentang gizi)

  3. onat mengatakan:

    Menggunakan analisis kuadran berdasarkan cut off point suatu indikator adalah ilmu yg baru bagi gizi. Hanya sayangnya KOK angka prevalensi defisit/tingkat konsumsi minimum dari tahun ke tahun dirasakan “meragukan” ya hasilnya alias gede banged (apalagi dibdngkan target 2015) . Banyaknya kelemahan di dalam cara pengambilan datanya, misalnya untuk Susenas menggunakan pendekatan pengeluaran pangan sehingga diketahui berat gramnya (kan relatif banged tuch harga per jenis bahan pangannya, udach gitu katanya konversi gizi nya pake food tabel Asia,bukan NBM). Sedangkan kalo di Riskesdas pake recall, nah ini mah sebaiknya ahli gizi yang melakukan recall (apalagi kalo menggali pertanyaan makanan jajanan) manalagi software nya nggak ada yg bener lagi. misalnya software PKG, nggak bener Skor PPH karena hasilnya sering mendekati 100 atau melebihi 100 (karena belum ada angka koreksi kalo nilainya ada yang 100 -> lihat petunjuk penyusunan NBM dari IPB), trus FP2 juga banyak kelemahannya. Alhasil banyak provinsi dalam status capaian RAN-MDGs/RAN-PG termasuk PERLU PERHATIAN KHUSUS alias strata 2 kebawah

Leave a Reply