No Stunting, Indonesia Bebas Stunting, Ayo Cegah Stunting. Gizi Baik, tinggi dan berprestasi

41 Responses to “Kasus Gizi Buruk : Empat Provinsi Tak Pernah Absen”

  1. Media Pacu mengatakan:

    Terima Kasih banyak untuk infonya, benar2 mmbuka mata ttg masalah kesehatan di Indonesia.
    Apakah di tahun 2017 ini kasus gizi buruk masih ada ?

  2. Jelly Gamat Solo mengatakan:

    Informatif sekali,
    semoga ada solusi terbaik dalam hal ini, salam sejahtera bangsa ini.

  3. Jadwal Persib mengatakan:

    website yang sangat bagus dan bermanfaat

  4. husni mengatakan:

    - Sebenarnya kalau melihat fenomena gizi buruk kita akan dihadapkan pada beberapa aspek yang harus diperhatikan. Yang paling utama GB biasanya disebabkan oleh penyakit infeksi, asupan makan, pola asuh, dan faktor ekonomi dan sosial. GB akan terus ada jika kesemua aspek yang mempengaruhi itu bisa tertangani.
    - Untuk SDM pelaksana gizi dilapangan, terutama di Puskesmas sebenarnya sudah sangat bagus. akan tetapi para petugas gizi di puskesmas tidak dibebankan kepada tugas gizinya saja namun juga banyak ditemukan seorang petugas gizi di puskesmas ditugaskan sebagai bendahara dengan seabrek SPJ
    - Untuk bisa menurunkan kasus GB, sebaiknya kemenkes memberikan penekanan kepada gubernur, walikota untuk membebaskan seorang petugas gizi dari pekerjaan yang memang bukan tupoksinya,,,terima kasih

  5. Anonymous mengatakan:

    Serba makin banyak:
    * Institusi pendidikan tenaga gizi makin banyak
    * Lulusan pendidikan gizi makin banyak
    * Dana APBN dan APBD untuk peningkatan gizi keluarga makin banyak
    * Penderita Gizi buruk makin banyak
    Perlu dievaluasi kembali sistem pendidikan tenaga gizi, terutama di Poltekkes, apakah sudah menggunakan strategi LINK and MATCH ataukah “bagaikan menara gading” (kerajaan kecil) yang tidak peduli lingkungan.
    LINK….apakah institusi pendidikan merupakan sub sistem sektor kesehatan ataukah sistem sendiri yang eksklusif?
    MATCH….apakah kurikulum match dengan program gizi nasional.
    Kalau tidak LINK and MATCH ya wajar kalau gizi buruk tidak turun.

  6. Sam Prb mengatakan:

    Yah menurut saya beberapa hal yang harus diperhatikan :
    1. SDM Bidang Gizi ditingkatkan (SDM dengan profesi Gizi banyak
    namun banyak juga yang dialihfungsikan dalam pekerjaannya)
    2. Wadah atau Naungan Pemerhati Gizi (Instansi apakah masih ada
    seksi Gizi dan Organisasi Persagi apakah sudah terbentuk dan
    terlaksana.
    3. Tidak adanya keberanian Pengakuan seorang Pemimpin pada suatu
    wilayah apabila ditemukan kasus Gizi BURUK karena dianggap
    berpengaruh terhadap hasil kinerja yang buruk (Apabila
    ditemukan satu kasus Gizi Buruk diwilayah merupakan AIB
    keberhasilan program Pelaksana Gizi bekerja dengan baik tiba2
    ada dilaporkan 1 kss GB apa yang terjadi Tolong ya jangan
    bla…..bla..)
    4. Ya dari keempat Propinsi yang menominasi angka GB tinggi tidak
    perlu rendah hati justru salut dengan kejujurannya tidak
    menutup kemungkinan di Propinsi lain terdapat GB dng Fenomena
    Gunung ES. Untuk peringkat kasus GB menurut saya SDM Gizinya
    sudah sangat2 luar biasa dan yang pasti konsentrasi tinggi dgn
    program GZ tapi apa yang terjadi tapi saya yakin ini menjadikan
    motifasi tersendiri untuk lebih baik.
    5. Dalam Etika Profesi Ahli Gizi tidak boleh menggunakan merk.
    dagang dalam melaksanakan Program (Sponsor) mohon dikaji ulang
    pada daerah2 tertentu masih sangat2 memerlukan dukungan sponsor
    untuk pengenalan Program Gizi
    6. Kurangnya reword untuk Petugas GZ yang kinerjanya bagus baik
    dari daerah dan Pusat

    Ini merupakan pengalaman kerja saya selama menjadi Pelaksana Gizi baik dari Puskesmas dan Dinas, namun demikian saya masih aktif dalam persatuan. Mohon maaf untuk semuanya, SALAM KADARZI.

  7. Sukarni Ismail mengatakan:

    Semoga tahun 2012 akan lebih baik lagi strategi Penanggulangan Gizi Buruk…..Tahun 2012 adalah Tahun Kerja khususnya untuk Dinkes Kabupaten Gorontalo………………………

  8. Sukarni Ismail mengatakan:

    Bagaimanapun Intervensi yang dilakukan terhadap kasus gizi buruk, tetap kembali kepada perilaku dan pengetahuan ibunya terutama pola usuh …… upaya pencegahan harus segera di laksanakan mengingat kasus baru masih tetap bermunculan. Upaya jangka panjang yakni lebih mengarah pada pemberian PMT pada Bumil KEK, dan upaya jangka pendek yakni pepmbentukan Pos Penanggulangan Gizi di semua Puskesmas Perawatan atau TFC (Therapeutik Feeding Centre). Untuk balita yang pasca penanganan di TFC dapat di lanjutkan di CTC (Comunity Therapeutic Feeding care. Penanganan dilapangan pasca perawatan di CTC perlu utuk menjaga kemungkinan akan kembali ke keadaan status gizi buruk lagi……

  9. santi mengatakan:

    setuju dengan pendapat yg disampaikan ridho..
    sebaiknya indikatornya jangan hanya menggunakan BB/U saja, TB/BB lebih krusial dibandingkan BB/U.
    saya bekerja sebagai pendamping balita gizi di salah satu dinas kesehatan di jawa timur, menemukan bahwa banyak sekali data yang menunjukkan BB/U’nya dibawah -2. tetapi setelah di’check di lapangan ternyata anaknya segar-bugar, dia berisi dan tidak kelihatan kurus sama sekali. apa yang menyebabkan demikian…? Ternyata, dia pendek menurut umurnya…!!
    Jadi menurut saya, BB/TB lebih menunjukkan status gizi anak saat ini. terima kasih.

  10. dien mengatakan:

    data prevalensi gizi buruk menantang untuk intervensi. penyebab masalah bila tahapan sudah gizi buruk sudah multiple , butuh intervensi bukan hanya dari gizi kesehatan tetapi se seluruh bidang pemerintah diluar gizi dan masyarakat. Konsep pencegahan gizi buruk lebih efisien daripada biaya untuk menekan gizi buruk karena ada faktor medis . butuh gerakan masal untuk mendorong satu indikator gizi dalam pembangunan sehingga setiap pelaku pembangunan berkewajiban menghapus gizi buruk diwilayahnya. prevalensi gizi buruk tinggi bisa ditemukan pada daerah aktivitas penimbangan balita yang tinggi. ini bukan memalukan tetapi menjadi tantangan untuk menghapusnya bersama dalam gerakan pembangunan hapus gizi buruk dalam pembangunan jangka pendek dan menengah.

    profesi gizi perlu bekerja keras untuk melakukan kerjasama untuk menghilangkan faktor penyebab gizi buruk diluar bidang gizi, seperti dengan pemda, bapemas, dinsos, lsm pemerhati anak dengan fokus langsung pada keluarga balita gizi buruk

    profesi gizi perlu mengajak nakes lain dengan memberikan pelatihan deteksi dini pada nakes lain seperti bidan dan perawat sehingga terapi gizi akan mendampingi seluruh tindakan dalam mengatasi masalah kesehatan yang ditimbulkan akibat dari kondisi kurang gizi juga kondisi kurang gizi dideteksi disemua lini kesehatan poli anak di rs, poli umum di puskesmas. semua nakes segera intervensi konseling dan memberikan modisko pada setiap penurunan BB di posyandu/ BKIA tanpa tunggu 2 kali penurunan berat badan atau pakai indikator sulit makan yang berdasar pengalaman merupakan tanda awal gizi kurang . bagi anak yang sulit naik BB setiap bulan hanya 200 gram tetapi bila diare BB turun minimal 2 kilogram. mengukur TB balita sulit sehingga kurang akurat, dan intervensi jangka pendek PMT 300-450 kalori tidak akan memberikan peningkatan tinggi badan.
    pola asuhan gizi, selain ASI eklusif juga yang penting menu MP ASI yang sesuai tahapan biologik balita atau promosi MP ASI yang baik dan benar oleh profesi gizi , dan bersama profesi nakes lain bekerja dalam upaya meningkatkan kesehatan pemberian pengobatan gratis pada setiap anak sakit, atau promosi MP ASI pencegahan penyakit dengan program imunisasi aktif
    bila hak anak menjadi bagian kehidupan bangsa Indonesia maka pemenuhan hak hidup, tumbuh dan berkembang terselenggara yang terbaik bagi anak menjadi kewajiban kita bersama

  11. johanes mengatakan:

    Kalau boleh tahu, data ini diambil dari sumber mana ya?

  12. Dina Setiawati mengatakan:

    sedih rasanya setiap melihat dan membaca berita tentang kasus gizi buruk.bukan hanya faktor kurang intake /asupan zat gizi dan penyakit infeksi.tapi juga faktor ekonomi yg bisa menjadi penyebab gizi buruk. tentunya ini semua menjadi tanggung jawab kita bersama.peran keluarga.masyarakat,tenaga kesehatan terutama ahli gizi dan pemerintah sangat dibutuhkan. semoga dengan kerjasama yg baik masalah2 gizi buruk di seluruh Indonesia bisa teratasi…aminnn

  13. Arfan mengatakan:

    Kasus Gizi buruk ………………………
    Makin banyak ditemukan akan makin baik karena itu pertanda surveilens gizinya jalan terus. OK …!!!!

  14. SOFYAN, Gorontalo mengatakan:

    Penanggulangan & penanganan belum optimal. Sejauh mana peran pemerintah (lintas sektor & lintas program)-PKK, peran ahli gizi, masy. apa pemerintah punya dukungan penuh, apa masyarakat sudah mengetahui ttg gizi….
    Sayangnya, setiap isu yg dilontarkan oleh calon kepala daerah adalah kesehatan, pendidikan & kesejahteraan…
    Namun, sampai saat ini kesehatan hanya berfungsi sebagai pemadam kebakaran-kalau ada masalah baru ditangani=== dimna aspek promosi dan preventif. 20% orang sakit belum semuanya tertangani, bgmna dengan 80% orang yang sehat?

  15. SOFYAN, Gorontalo mengatakan:

    “GIZI BURUK”
    Status gizi Gorontalo peringkat 28″ (peringkat 6 prev gizi kurang) — Riskesdas 2010== selama 5 thn berturut-turut (’05-09) masuk ke dalam kategori 10 provinsi dgn kasus gizi buruk tertinggi. Terdapat 4 provinsi tidak pernah absen yi: Jateng, Jatim, NTT & amp; Grntlo—-gizi.net xxx 10 provinsi dengan kasus gizi buruk tertinggi : Jabar, Jateng, Jatim, Sumut, Banten, NTT, Riau, Sumsel, Lampung n Sulsel–Metro hari ini, 16 Peb 2011

  16. Herman mengatakan:

    Salut buat 4 propinsi yang sudah berani laporkan kasus gizi buruknya! Di daerah2 tertentu data kasus gizi buruk yang dilaporkan bisa saya katakan data sampah! Sebab, takut di ekspos ke media, jadi ditutup-tutupi!

  17. Ridho mengatakan:

    Apakah Direktorat Gizi Kemenkes dan Pengelola RISKESDAS tidak salah dalam penentuan status gizi yang hanya menggunakan BB/U. Menurut sy, belum tentu status gizi Balita yang diukur dengan menggunakan indikator BB/U hasilnya sama dengan BB/TB. Karena BB/TB menggambarkan status gizi Balita pada saat sekarang. Jadi saran sy, kedepan nanti untuk RISKESDAS jgn menggunakan indikator BB/U. Daripada pemerintah menggunakan data RISKESDAS, lebih baik menggunakan data PSG.

  18. ida mengatakan:

    that’s why we (nutritionist) are important…

  19. Ione Yantz mengatakan:

    There is clearly a lot to know about this. I think you made some good points in Characteristics also.
    Keep working , excellent task!

  20. Syaflini anggidin mengatakan:

    Menyedihkan, sudah 65 tahun Indonesia Merdeka dan sudah 58 Tahun sejak PMMR dicanangkan di Indonesia dan sudah bertahun-tahun kita berupaya memberantas gizi buruk di Indonesia dengan segala cara namun sampai sakarang kasus gizi buruk tetap ada bahkan cenderung meningkat.
    Menurut saya kasus gizi buruk bukan hanya ada di 4 provinsi namun hampir di semua provinsi, namun tidak terdeteksi. PSG dan juga penimbangan balita di Posyandu tidak berdaya menemukan kasus gizi buruk yang sebenarnya dikarenakan pendataan dan keinginan luhur dari aparat kesehatan pada ujung tombak kelihatannya tidak pernah akurat.
    Hal ini tercermin dari data dan juga pelaporan yang belum sempurna dan kadang hanya copy paste.
    Proyek NICE di Indonesia mempunyai tanggungjawab besar untuk menemukan cara yang paling baik untuk mendeteksi kasus gizi buruk di pesedaan dengan pemberdayaan masyarakat.
    Mudah-mudahan dengan dana yang sangat besar yang diberikan ke pada Desa melalui KGM akan merupakan era baru dalam memberikan pengertian kepada masyarakat bahwa deteksi dini masalah gizi justru dilakukan oleh masyarakat sendiri sehingga intervensi yang dilakukan dapat sedini mungkin. Ingat SPM Gizi menghendaki tidak ada lagi kasus Gizi buruk baru muncul dan kasus yang ada harus semuanya mendapat perawatan.
    TFC sudah dibuat di Puskesmas rawat tinggal, dana sudah disediakan , sehingga tidak ada lagi alasan akan muncul kasus gizi buruk baru
    TPG Puskesmas marilah kita unjuk kebolehan bahwa gelar ahli Gizi bukan semata hanya sedbagai simbol sosial namun diamalkan dalam turut menciptakan mansia-manusia yang berstatus gizi baik dan bermuara pada Rakyat Indonesia yang cerdasa dan bermutu dimasa yang akan datang
    Semoga

  21. oryn mengatakan:

    bila pada tahun 2005 – 2007 dapat menurun .. mengapa hal sebaliknya dapat terjadi pada tahun depannya ..??
    apakah dapat digunakan cara yang sama dalam menurunkan angka tersebut menggunakan cara yang dilakukan pada tahun 2005 – 2007 tersebut ..??

  22. tommy mengatakan:

    gizi buruk……klo diteliti lebih lanjut mungkin tidak hanya daerah tersebut yg ada…..terutama daerah indonesia timur pasti banyak…..tp karna masing2 kadinas kesehatan brupaya menyembunyikannya………

  23. nore mengatakan:

    terus galakan pemberian ASI ekslusif 6 bulan + pemberian ASI hingga 2 tahun.

  24. bayu mengatakan:

    revitalisasi posyandu donk….
    tambah keaktifan kader,, tambah insentif…
    kader jangan cuma nunggu,, jemput balitanya di rumah..
    aktifkan surveilans gizi yang valid dan terintegrasi…

  25. DIAN SHOFIYA mengatakan:

    sangat memprihatinkan…., Indonesia yang berlimpah pangan ternyata banyak yang menderita Gizi Kurang.
    Indeks tentang satatus gizi dimasa yang akan datang seharusnya tidak lagi BB/U saja tetapi sudah ke TB/U dan BB/TB. Sehingga nantinya akan timbul generasi indonesia dengan performa fisik yang ideal.
    Selamat bekerja…………

  26. Chairul Ihsan mengatakan:

    yang jelas bila terjadi gizi buruk bukan hanya orang tua tapi semua sektoral tekait harus bisa berperan aktif untuk meningkatkan status gizi anak. sektoral terkait (PKK, Pemerintah itu sediri,KB,Pertanian, sosial, dikbud, tokoh masyarakat itu sendiri dll ), pejabat diatas juga perlu fokus satu program dulu dijalani baru program yg lain dibuat……………….

  27. mudjahit mengatakan:

    Alhamdulilah setelah lounching modem ke temen2 gizi Kab/Kota d i wilayah Kalbar dan setelah adanya arahan dari Pusat (Pak Eman) ternyata temen2 sudah ada yang langsung entri… terima kasih untuk temen2 Kab/Kota yang telah mengisi… mudah2n yang lain segera menyusul…

  28. HENDRI HADDAD mengatakan:

    PENYEBAB MASALAH TIMMBULNYA KASUS GIZI BURUK
    1. KELUARGA :
    -Tidak Mau/Jarang Menimbang Ke POSYANDU
    -Pola Asuh Anak Kurang Baik
    -Jumlah Anak Terlalu Banyak
    -Kehaormonisan Rumah Tangga
    2. MASYARAKAT :
    – POSYANDU TIidak aktifF
    3.NON KESEHATAN :
    – Alasan Ekonomi (Kemiskinan)

    - Ketersedian Pangan di Rumah Tangga Terbatas
    – Tingkat Pendidikan rendah

    - Infrastruktur
    – Geografis

    – Lingkungan kurang baik
    4. KESEHATAN :
    – Penyakit Infeksi dan Menular

    - Pengetahuan Gizi Kurang

    – Pengetahuan tentang Pola Asuh Anak Kurang
    KESIMPULANNYA BAHWA TIMBULNYA KASUS GIZI MERUPAKAN TANGGUNGJAWAB KITA SMUA BUKAN KESEHATAN SAJA

  29. cay mengatakan:

    Bicara gizi buruk menjadi tanggung jawab semua mulai dari keluarga itu sendiri, masyarakat dan pemerintah.

    Pengetahuan, kebiasan dan perilaku yang baik, dan kemampuan untuk melakukan yang terbaik. Ibu hamil mendapat makanan yang bergizi, tidak perlu mahal dan yang mudah di dapat di sekitar kita, diolah dengan cara benar supaya zat gizi dalam makanan tidak rusak.
    Keluarga berupaya mandiri dengan memanfaatkan lahan yang dimiliki misalnya menanam sayuran, beternak, memelihara ikan, dan mengembangkan ketrampilan yang dimilki.
    Bayi baru lahir mendapat Air Susu Ibu (ASI)ciptaan Tuhan yang luar biasa sebagai makanan utamanya yang menjamin kehidupannya, dan bila sudah berumur 6 bulan mendapat makanan selain ASI yang masih diteruskan sampai umur 2 tahun. Anak-anak mendapat makanan bergizi, karena memiliki orang tua yang bijaksana dalam pengaturan uang untuk mengolah makanan anaknya, tidak mengutamakan jajan. Demikian juga bagi remaja dan orang dewasa, tidak terjebak dalam kehidupan yang konsumtif, cenderung mengkonsumsi junk-food dll.
    Demikian juga dengan masyarakat dan pemerintah yang terus berupaya mengkondisikan dan mendampingi keluarga Indonesia dalam pemenuhan hak terhadap kebutuhan gizinya.
    Kesadaran, kemauan dan tindakan serta kerja sama yang dibangun, itulah yang tujuan kita dan yang sedang kita lakukan. Peran media dalam membangun komunikasi juga terus dibangun. Kiranya bermanfaat, yah

  30. tedja mengatakan:

    Gizi buruk……. Kelemahan sapa
    ?

  31. dasni mengatakan:

    bisa tahu juknis pemberian MP-ASI dari Dirjen Binkesmas tahun 2010? dan dana pendistribusiannya sudah ada apa belum di kantor Pos?trims

  32. dian mengatakan:

    Terima Kasih banyak untuk infonya, benar2 mmbuka mata ttg masalah kesehatan di Indonesia.
    Maju terus Pak… GBU

  33. Dee mengatakan:

    assalamu’alaikum…….gizi buruk ko kayanya jadi tugas kemenkes thok ya…..

  34. haqi mengatakan:

    smoga kasus gizi buruk semakin menurun tiap tahunnya

  35. siswono mengatakan:

    Ok, tks atensinya kalau begitu kita buat link saja pak.

    Salam,
    Redaksi

  36. Putra mengatakan:

    salam .
    saya Wakil Sekjend dari Ikatan Lembaga Mahasiswa Gizi Indonesia . saya turut perihatin akan provinsi yg selalu masuk daftar tersebut .
    kami dari ILMAGI akan mencoba membantu mengawal perbaikan gizi di Indonesia semaksimal mungkin .terima kasih atas infonya

  37. Junadi mengatakan:

    Good job!!!
    Semoga tampilan dan isi semakin baik dan menarik

    • siswono mengatakan:

      Pak Junaidi terima kasih atensinya, kami akan selalu mencoba menghadirkan berita-berita terkini terkait dengan program perbaikan gizi.

Leave a Reply