Forum Diskusi

Media komunikasi interaktif
Sekarang ini Sab Jan 25, 2020 9:40 am

Waktu dalam UTC + 7 jam




   [ 1 post ] 
Pengarang Pesan
PostDipost: Min Mei 22, 2016 7:22 am 

Bergabung: Min Mei 22, 2016 6:31 am
Post: 1
PUASA (al-shiyam) mengandung makna menahan diri, yaitu sebagai satu beribadah yang diharuskan untuk tiap-tiap muslim. Prosedur beribadah puasa itu menahan diri dari makan, minum, terkait suami isteri, serta tentang yang membatalkannya mulai sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Keharusan beribadah puasa ini mengantarkan pribadi pelakunya jadi takwa serta sudah pernah ada pemberlakuannya sebelumnya umat Muhammad (QS. Al-Baqarah : 183).

Dalam perspektif Islam, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah, untuk kita tiap-tiap golongan muslimin kalau sebegitu utama berarti beribadah ini pada tiap-tiap pribadi yang menunaikannya sudah pasti mesti di ketahui hikmah puasa ramadhan yang terdapat didalamnya sebagai filosofi dari arti “menahan diri” dalam perilaku puasa itu. Hingga dengan hal tersebut tiap-tiap muslim berpuasa di inspirasi jadi pribadi takwa yang bermanfaat untuk kehidupan dianya (perorangan) serta kehidupan bermasyarakat (sosial).

Substansi menahan diri ini cakupannya begitu khusus yang butuh di perhatikan oleh yang berpuasa. Menahan diri itu (Quraish Shihab) diperlukan oleh tiap-tiap orang, tak mengetahui type kelamin, strata sosial, baik ia lelaki, wanita, kaya serta miskin, komune moderen serta primitif perorangan maupun grup membutuhkan sikap untuk menahan diri. Esensi dari niat puasa keharusan beribadah puasa itu yaitu menahan diri (Mustafa al-Maraghi). Tiap-tiap pribadi yang bisa menahan diri tersebut yang berhasil menunaikan puasanya, mencerminkan ciri-ciri manusia takwa, manusia yang meletakkan posisinya sebagai individu yang patuh pada Allah serta RasulNya serta sebagai pribadi yang mempunyai kepedulian sosial, hingga kemunculannya itu berbentuk multiguna untuk diri, keluarga serta orang-orangnya.

Tuntutan dari spirit syar’i pada pribadi yang berpuasa itu diantaranya menahan diri dari makan serta minum, terkait suami isteri, serta hingga batas ini oleh al-Ghazali mendeskripsikan sebagai puasanya mereka yang pemula. Pada posisi ini, sudah pasti bakal mengajarkan seorang yang berpuasa satu “pengalaman” menahan lapar serta dahaga seyogyanya memberikan inspirasi pribadinya untuk mengerti bagaimana penderitaan manusia tanpa ada makan serta minum lantaran tak berkecukupan.

Di samping tentang itu ditambah lagi dengan usaha kongkrit menahan diri dari menahan nafsu syahwat, menahan nafsu amarah, menahan diri dari perkataan yg tidak bermanfaat serta terlebih perkataan yang menyakitkan pendengarnya, menahan diri dari pandangan mata dari situasi maksiat, menahan diri dari dengarkan yang sifatnya provokatif ; pegunjingan serta atau isu, juga menahan diri dari kecenderungan hati yang “rusak”, yakni hati yang penuh berprasangka buruk (syu’udzdzan) tak pernah berbaik kira (khusnudzdzan), atau memikirkan positif.

Manusia yang dapat menahan diri dari kondisi mentalitas seperti ini sudah pasti mencerminkan pribadi yang berkarakter yang pada gilirannya bakal teruji untuk mengemban amanah personal yang tampak untuk berbuat kebaikan baik dalam hubungan dengan Sang Khaliq ataupun sesama makhluk. Kesempurnaan seorang saat ia dapat dengan cara cerdas menahan diri dari semuanya perilaku itu, selalu perbanyak zikrullah serta merenungi dimensi spiritual kebaikan hingga ia bisa tampak jadi sosok perduli lingkungannya. Mereka yang meraih step berikut sudah memperoleh anugerah hikmah yang subtansial dari perilaku penunaian beribadah puasa.

Konsekwensi logis dari menahan diri itu dalam implementasinya bakal melahirkan pribadi muslim yang takwa ; Saat ia kaya namun tak mengakibatkan ia sombong, saat ia miskin serta terbatas hidupnya tak mengakibatkan kemiskinannya itu saat ada kesempatan bikin dianya jadi tamak serta rakus. Demikian pula cara niat shalat tarawih saat seorang itu pintar tak mengakibatkan kepandaiannya itu jadi sosok yang super serta membanggakan diri, saat ia jadi penguasa tak mengakibatkan ia menzalimi orang lain, berbuat semena mena pada orang lain, saat ia jadi rakyat tak mengakibatkan ia membatasi diri tanpa ada partisipasi dalam membina kebersamaan yang diridhaiNya.

Berikut sisi integral dari filosofi “menahan diri” yang sejatinya tumbuh serta berkembang dari tiap-tiap insan yang berpuasa, hingga lahirlah pribadi yg tidak cuma shalih dengan cara perorangan namun juga mempunyai keshalihan sosial. Karenanya, jangan sampai terjerat dengan pola “menahan diri” yang semu, yakni tak ada follow-up dari usaha menahan diri yang dikerjakan sepanjang puasa hingga seorang yang sekian tak keciprat hikmah puasanya seperti ditegaskan oleh Rasulullah saw : “Betapa banyak mereka berpuasa tanpa ada peroleh apa pun dari beribadah puasanya terkecuali satu sistem menahan lapar serta dahaga. ” (HR. Bukhari).

Saat seperti ini alangkah meruginya, karenanya fikirkanlah apa yang kita lakoni dari “menahan diri” itu semestinya tercermin dalam kita berprilaku keseharian ke depan hingga terwujudlah tatanan komune yang baik, perduli serta membanggakan dan diredhaiNya. Wallahualam.


Atas
   
 
Tampilkan post-post sebelumnya:  Urutkan sesuai  
   [ 1 post ] 

Waktu dalam UTC + 7 jam


Siapa yang online

Pengguna yang berada di forum ini: Tidak ada pengguna yang terdaftar dan 1 tamu


Anda tidak dapat membuat topik baru di forum ini
Anda tidak dapat membalas topik di forum ini
Anda tidak dapat mengubah post anda di forum ini
Anda tidak dapat menghapus post anda di forum ini
Anda tidak dapat mempost lampiran di forum ini

Cari:
Lompat ke:  
cron
POWERED_BY