Forum Diskusi

Media komunikasi interaktif
Sekarang ini Rab Mar 20, 2019 2:40 pm

Waktu dalam UTC + 7 jam




   [ 1 post ] 
Pengarang Pesan
PostDipost: Sen Apr 23, 2018 8:12 pm 

Bergabung: Min Nov 30, 2014 6:52 pm
Post: 40
Persoalan distribusi akses service kesehatan yaitu hal yang tak akan dapat disangkal sekarang ini. Hal semacam ini disibakkan oleh perwakilan Asosiasi Tempat tinggal Sakit Swasta Indonesia, Fajaruddin Sihombing.

“1 rumah sakit DKI Jakarta yang ditujukan untuk perlakuan 1000 masyarakat, telah betul-betul lebih dari kemampuan semestinya. ” katanya waktu didapati di Komunitas Diskusi Philips HealthTech sekian waktu lalu.

Problem beda juga disibak oleh Presiden Direktur Philips Indonesia, Suryo Suwignjo. Problem pertama yaitu accessibility di mana semuanya sarana yang baik serta tenaga bebrapa pakar masih tetap terpusat di kota-kota besar, hingga belum juga terjangkau oleh orang-orang yang tinggal di daerah terpencil.

Ke-2, problem capability yakni tenaga-tenaga dokter umum mungkin saja banyak, namun tidak dengan dokter-dokter spesialis. Ke-3, capacity di mana ketersediaan alat-alat medis dengan terobosan inovatif yang terbatas. Ke-4, problem affordability tentang keterjangkauan cost kesehatan.

Di zaman yang telah serba mutakhir, hadirnya tehnologi begitu bertindak dalam tingkatkan service kesehatan. Suryo mencontohkan dunia medis Amerika Serikat (AS). Di AS, mereka menghimpit cost layanan memakai tehnologi serta bekerja bersama dengan tenaga pakar kesehatan di India.

Dua negara dengan lain saat 12 jam ini, bekerja bersama dalam lakukan diagnosis. Saat pagi AS, yalla shoot dokter lakukan tes radiologi, lalu akhirnya di kirim ke India untuk di baca akhirnya. Pakar radiologi India kirim hasil diagnosisnya, lalu dokter di AS dapat ambil aksi medis setelah itu berdasar pada hasil diagnosis dari India.

Diinginkan berikut nanti yang dapat diterapkan di Indonesia. Sama hal nya dengan rencana rawat inap. Suryo mengharapkan dengan pertolongan tehnologi, nanti rencana rawat inap di Indonesia lebih pilih sistem pemulihan dirumah dengan pantauan tehnologi pada dokter dengan pasien.

Dengan terdapatnya tehnologi, Fajar juga mengharapkan bisa mensupport percepatan kolaborasi pada pihak-pihak yang berkaitan dengan bagian kesehatan, pemerintah, pihak swasta, ataupun institusi-institusi kesehatan yang lain. Diluar itu, diharapakan jumlah pasien yg tidak teratasi juga menyusut.


Atas
   
 
Tampilkan post-post sebelumnya:  Urutkan sesuai  
   [ 1 post ] 

Waktu dalam UTC + 7 jam


Siapa yang online

Pengguna yang berada di forum ini: Tidak ada pengguna yang terdaftar dan 0 tamu


Anda tidak dapat membuat topik baru di forum ini
Anda tidak dapat membalas topik di forum ini
Anda tidak dapat mengubah post anda di forum ini
Anda tidak dapat menghapus post anda di forum ini
Anda tidak dapat mempost lampiran di forum ini

Cari:
Lompat ke:  
POWERED_BY