Forum Diskusi

Media komunikasi interaktif
Sekarang ini Kam Jun 20, 2019 1:21 pm

Waktu dalam UTC + 7 jam




   [ 1 post ] 
Pengarang Pesan
PostDipost: Rab Mei 02, 2018 1:27 pm 

Bergabung: Min Mei 11, 2014 6:02 pm
Post: 68
Pernyataan Gizi Buruk Diatasi dengan Daun Kelor Tuai Reaksi

Pernyataan Calon Gubernur Nusa Tenggara Timur (Cagub NTT) Viktor Laiskodat (VL) dalam acara debat kandidat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) NTT yang disiarkan stasiun TV kora online, beberapa waktu lalu mendapat kritikan. Pasalnya, dalam acara itu, VL mengatakan, untuk menyelesaikan persoalan gizi buruk bisa dengan daun kelor. Jawaban itulah yang kemudian banyak memancing reaksi publik. Salah satunya datang dari Pengamat Komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing.

Menurut dia, kalimat yang disampaikan VL cukup menganggu khalayak. ”Daun kelor dijadikan jalan keluar atas kasus gizi buruk itu tidak masuk akal. Semua orang juga tahu, tidak mungkin gizi buruk bisa diatasi hanya dengan daun kelor. Kalimat ini terlalu menyederhanakan masalah,” ulas Emrus.

Kalau memang kasus gizi buruk bisa diselesaikan hanya dengan daun kelor, Emrus menjelaskan, tidak akan ada lagi kasus gizi buruk di muka bumi ini. ”Hingga saat ini pun, belum ada rekomendasi dari ahli kesehatan yang mengatakan bahwa gizi buruk bisa diatasi dengan daun kelor. Dan akan berbeda jika ada pandangan medis yang mengatakan, daun kelor bisa menjadi obat atau media untuk menyelesaikan kasus gizi buruk,” ujarnya.

Karena itu, Emrus menyayangkan pernyataan VL yang dinilai tidak menggunakan pola komunikasi yang baik dan sebagimana mestinya seorang calon gubernur di mata publik.

Emrus menegaskan, sebaiknya VL mengemukakan program yang riil dan rasional yang benar-benar dapat mengatasi persoalan gizi buruk. Bukan malah seolah menyederhanakan persoalan dengan daun kelor.

Sebelumnya, ketika menjawab permasalahan gizi buruk di NTT dalam debat perdana Pilgub NTT, Kamis, (5/4) lalu, VL yang berpasangan dengan Joseph Nae Soi mengatakan,

daun kelor dipercaya bisa menjadi sumber makanan alternatif di NTT. "Sebenarnya masalah gizi buruk karena pemerintah tidak mendorong agar kelor menjadi sayur unggulan untuk memberikan protein bagi otak anak," katanya.

VL juga menyayangkan sikap masyarakat yang tak terlalu peduli pada sumber makanan alternatif itu. Pasalnya, di Afrika, daun kelor telah terbukti berhasil mengentaskan gizi buruk. Sementara warga NTT tidak pernah mau makan kelor. ”Padahal itu bertumbuh liar di NTT," tandasnya.

Sementara itu, dari salah satu literatur, kendati daun, akar, kulit hingga akar kelor memiliki manfaat yang besar untuk kecantikan dan kesehatan, nyatanya tumbuhan ini memiliki efek negatif terhadap beberapa orang dengan kondisi tertentu. Bahkan, meski layak dikonsumsi, bagian akarnya tidak disarankan untuk diolah menjadi makanan. Sebab, bagian tersebut memiliki zat beracun yang berbahaya bagi tubuh. Racun tersebut dapat mengakibatkan kelumpuhan hingga kematian. Selain itu, belum ada penelitian lebih lanjut mengenai sejauh apa efektifitas daun kelor dalam bidang pengobatan.

Sementara itu, ibu hamil juga disarankan tidak mengonsumsi bagian akar, kulit, serta bunganya. Zat kimia berbahaya yang terkandung dalam bagian-bagian tersebut dapat menyerang rahim hingga mengakibatkan keguguran.

_________________
yalla shoot


Atas
   
 
Tampilkan post-post sebelumnya:  Urutkan sesuai  
   [ 1 post ] 

Waktu dalam UTC + 7 jam


Siapa yang online

Pengguna yang berada di forum ini: Tidak ada pengguna yang terdaftar dan 0 tamu


Anda tidak dapat membuat topik baru di forum ini
Anda tidak dapat membalas topik di forum ini
Anda tidak dapat mengubah post anda di forum ini
Anda tidak dapat menghapus post anda di forum ini
Anda tidak dapat mempost lampiran di forum ini

Cari:
Lompat ke:  
cron
POWERED_BY